Skip to main content

DAMPAK PEMANFAATAN SISTEM E-LEARNING PADA PT. CAHAYA RESOURCH UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SDM.


DAMPAK PEMANFAATAN SISTEM E-LEARNING PADA PT. CAHAYA RESOURCH UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SDM.

Sejak tahun 1970 teknologi informasi dan komunikasi di Negara Indonesia berkembang pesat, perkembangan tersebut berjalan secara bertahap. Semenjak terbentuknya Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) di Indonesia, sangat membantu perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ada di Indonesia menjadi terarah. Pada orde baru terdapat teknologi informasi dan komunikasi yang baru yaitu internet. 
Dalam internet terdapat banyak variasi program atau layanan internet yang sangat membantu masyarakat dalam hal sarana informasi maupun edukasi. Internet identik dengan media sosial yang terdapat banyak variasi program di dalamnya salah satunya yaitu konten. 
Masyarakat dapat meluangkan ide atau pemikiran dan juga mengekspresikan diri melalui konten. Dengan adanya konten dapat memberi banyak manfaat bagi masyarakat dalam hal pendidikan, bisnis, ataupun perusahaan. Misalnya pemanfaatan konten pada perusahaan. Saat ini perusahaan -- perusahaan sudah mulai memanfaatkan inovasi teknologi komunikasi dan informasi yaitu konten. Salah satu inovasinya adalah konten e-learning.
E-learning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam peroses belajar mengajar. Sedangkan menurut michael (2013:27), e-learning merupakan pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran. E-learning memanfaatkan teknologi sebagai wadahuntuk pengajaran melalui media online. Konten ini mempunyai sifat mandiri, dikarenakan pembelajaran e-learning akan di posting melalui media online dan akan tersimpan dalam suatu program yang nantinya dapat diakses secara mandiri oleh seseorang yang membuka program dari e-learning tersebut.
Indonesia telah menerapkan e-learning untuk proses pembelajaran hal tersebut dikarenakan banyak manfaat yang terdapat dalam konten ini yaitu e-learning dapat diakses kapan saja dan dimana saja sehingga seseorang tidak perlu mengeluarkan banyak waktu untuk datang kesuatu tempat untuk melakukan pembelajaran. 
Selain itu e-learning juga sangat berguna bagi suatu perusahaan, hal tersebut diketahui melalui sebuah survei oleh majalah Forbes di Amerika dan Eropa yang telah mulai menghimplementasikan sistem manajemen pelatihan berbasis e-learning yang terdapat banyak manfaat untuk perusahaan yaitu menghemat waktu dan biaya. Perusahaan saat ini menggunakan e-learning sebagai media training bagi karyawan-karyawannya.
Penerapan e-learning pada suatu perusahaan dinilai sangat menguntungkan dari berbagai sisi yaitu (anywhere, anytime, anyspace), dengan konten ini perusahaan dapat memberikan pembelajaran dimana saja, kapan saja, dan diruang manapun selama didukung dengan keberadaan jaringan internet tentunya. Selain itu perusahaan konten ini sangat membantu perusahaan besar yang mempunyai banyak cabang, tidak perlu bersusah-payah mendatangi cabang perusahaan satu-persatun karena e-learning dapat menjangkau semua cabang perusahaan guna untuk melakukan training untuk karyawan perusahaan.
Selain itu banyak perusahaan di Indonesia yang berharap menggunakan e-learning yang akan menguntungkan untuk perusahaan misalnya biaya pelatihan yang dikeluarkan perusahaan dapat menjadi lebih rendah. Biaya rendah disini meliputi biaya transportasi, dengan adanya teknologi e-learning ini perusahaan tidak perlu jauh-jauh mendatangi lokasi pelatihan, cukup menggunakan koneksi internet, maka pelatihan sudah bisa dilakukan.
Terdapat syarat penerapan e-learning dalam perusahaan antara lain:
1. Meaningful content
Untuk melakukan penerapan e-learning dalam perusahaan hal yang paling utama harus diperhatikan adalah mengenai isi konten e-learning yang akan di bagikan. Isi dari e-learning yang akan di bagikan harus bermanfaat bagi perusahaan ataupun karyawan perusahaan misalnya mengandung makna tertentu yang berguna untuk proses pembekalan bagi karyawan perusahaan.
2. Effective learning design
Hal kedua yang harus diperhatikan dalam penerapan e-learning dalam perusahaan adalah mengenai keefektifan dari isi e-learning tersebut, isi konten e-learning harus efektif sehingga para karyawan perusahaan yang mengakses dapat mudah menerima pembelajaran dengan baik dan juga sesuai dengan tujuan perusahaan.
3. Technology that works
Hal ketiga yang harus diperhatikan yaitu mengenai ketepatan isi dari e-learning yang akan disampaikan. Yang dimaksud ketepatan disini adalah e-learning harus disajikan dengan tepat, sehingga pembelajaran dapat bekerja dengan optimal, selain itu karyawan perusahaan juga alan mendapatkan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan dan karyawan juga mendapatkan pengalaman pembelajaran melalui ketepatan isi e-learning yang disampaikan.
Proses pembuatan e-learning dalam perusahaan
Pembuatan konten e-learning dalam suatu perusahaan terdapat 2 metode yaitu pembuatan e-learning yang berupa modul dan juga pembuatan web berupa learning management system (LSM). Learning management system merupakan layanan berupa webside yang bisa diakses oleh user (pengguna) yang telah dibuat. 
Melalui LSM dapat terlihat berupa laporan bagi siapa saja yang telah mengakses e-learning dan juga akan memberikan peringatan bagi orang yang belum membuka e-learning tersebut. dalam proses pembuatan e-learning dalam perusahaan terdapat beberapa pihak yang terlibat dalam proses pelatihan atau penggunaan e-learning diantanya yaitu user, subject matter expert, tim developer.
Masing -- masing pihak tersebut mempunyai tugas tersendiri dalam mengelola e-learning. User berarti orang yang dapat mengakses portal e-learning yang telah dibuat. Terdapat beberapa tingkatan user yaitu moodle, seperti admin utama, manager, pemateri, karyawan perusahaan. Subect matter expert adalah pengampu materi yang menguasai materi yang nantinya akan dibuat sebuah pembelajaran dalam e-leraning. 
Biasanya subject matter expert dijalankan oleh pihak perusahaan yang mengetahui segala hal dari sebuah pembelajaran yang akan disampaikana dalam e-learning tersebut, subject matter expert biasa disebut sebagai pemateri utama dalam e-learning. Sedangkan tim developer merupakan pihak yang menyusun materi menjadi sebuah skenario pembelajaran, tim developer juga bertanggung jawab mengubah sebuah materi pembelajaran tertulis menjadi lebih menarik dan lebih hidup dengan cara menambahkan grafik, audio visual, ataupun animasi dalam isi e-learning.
Terdapat beberapa keuntungan penerapan e-learning dalam perusahaan diantaranya adalah sebagai berikut:
Keuntungan penerapan e-learning bagi perusahaan dalam hal melakukan training (pelatihan):
1. Fleksibel
Penerapan e-learning dalam perusahaan akan memberikan fleksibelitas yaitu e-leraning akan lebih bersifat efisien dalam mengatur waktu pembelajaran. Proses training perusahaan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa menghabiskan banyak waktu.
2. Mandiri
Penerapan e-learning dalam perusahaan bersifat mandiri. Materi pembelajaran dapat diakses melalui komputer, laptop, smartphone dengan menggunakan jaringan koneksi internet. Dengan begitu karyawan perusahaan dapat mengakses pembelajaran e-learning secara mandiri, belajar dengan kemauan sendiri dan karyawan dapat menentukan waktu yang tepat baginya untuk melakukan pembelajaran, hal itulah yang membedakan antara penerapan pembelajaran e-learning dengan proses belajar yang bersifat konvensional. selain itu karyawan akan bisa lebih fokus menerima pembekalan atau pembelajaran dari perusahaan.
3. Hemat Biaya PengeluaranP
enerapan e-learning dalam perusahaan akan membantu meringankan biaya training.
4. Pembelajaran Secara Continue
Dengan menerapkan e-learning dalam perusahaan maka materi yang dibagikan kepada karyawan dapat dipelajari atau dibaca berulang-kali dalam bentuk data,video, audio visual dan lain sebagainya.
5. Jangkauan Yang Luas
E-learning dapat menjangkau siapa saja dan seberapa jauh jaraknya dengan begitu akan sangat menguntungkan perusahaan dalam proses training karyawan.
6. Penyebaran Pembelajaran Sangat Cepat
Pembelajaran melalui media sosial e-learning bersifat cepat, sehingga karyawan dapat mengakses materi pembelajaran dengan segera.
Beberapa Perusahaan Yang Telah Menerapkan E-learning:
Tercatat beberapa perusahaan telah menerapkan e-learning dan hasilnya cukup memuaskan dilihat dari sisi keuntungan yang diperoleh perusahaan dengan menggunakan e-learning. Data menunjukkan beberapa perusahaan seperti Aetna bisa menghemat biaya pengeluaran dibandingkan jika mereka menerapkan pembelajaran konvensional. 
Dari hal tersebut telah banyak perusahaan yang mencoba membandingkan antara pembelajaran melalui metode konvensional dengan penerapan e-learning. J.D fletcher Study juga menyebutkan bahwa pembelajaran melalui metode e-learning secara besar dapat lebih meningkatkan pemahaman dan penerapan materi yang disampaikan dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional.
Selain itu terdapat juga perusahaan perbankan yang telah menerapkan e-learning yaitu Bank Mandiri. Perusahaan Bank Mandiri telah menerapkan proses pembelajaran melalui e-learning yang dimana pembelajaran dapat dilakukan pada jarak jauh dan juga dapat diakses seluruh karyawan Bank Mandiri diseluruh cabang di Indonesia. 
Menurut Chief Executive Officer (CEO) Bank Mandiri keuntungan yang diperoleh dalam menerapkan pembelajaran menggunakan e-learning adalah untuk meminimalisir biaya yang dikeluarkan guna untuk pembelajaran atau pelatihan bagi karyawan Bank yang jumlahnya tidak sedikit, selain itu penerapan pembelajaran e-learning bersifat sangat cepat sehingga para karyawan dapat langsung mengakses materi pembelajaran yang telah di kirim melalui e-learning tersebut.
 Penerapan metode e-learning pada perusahaan yang telah disusun dengan baik maka akan menghasilkan keuntungan tersendiri untuk perusahaan, hal tersebut dikarenakan metode pembelajaran menggunakan e-learning dapat meningkatkan skill karyawan yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Selain itu keuntungan pembelajaran menggunakan metode e-learning adalah perusahaan dapat memastikan bahwa dokumentasi pembelajaran yang diberikan kepada karyawan dapat disimpan dengan sistematis dan terinci.

Dengan manfaat tersebut, tidak heran apabila akhirnya banyak perusahaan yang mencoba menerapkan e-learning dalam rangka peningkatan kualitas SDM. Walaupun demikian, seiring dengan perjalanan waktu, banyak perusahaan yang menerapkan e-learning akhirnya berakhir dengan sebuah kegagalan besar. Mengapa ini terjadi? Saya bisa bilang hal ini disebabkan karena perusahaan terlalu berfokus atau terbuai dengan manfaat yang ditawarkan. Tetapi mereka sedikit atau bahkan mengabaikan hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam rangka mengimplementasikan e-learning di perusahaan. Karena untuk mengimplementasikan e-learning tidaklah semudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus dipersiapkan dan dilakukan agar implementasi e-learning dapat berjalan dengan baik dalam jangka waktu yang lama. Karena itu, tulisan ini mencoba memberikan gambaran beberapa alasan kegagalan implementasi e-learning di perusahaan.

  1. Tidak memiliki strategi implementasi (blue print) yang komprehensif. Sering kali perusahaannya hanya berpikir dalam jangka pendek ketika memutuskan untuk mengimplementasikan e-learning, bahkan hanya menganggap e-learning sebagai sebuah pilot project. Hal ini jelas merupakan sebuah kesalahan besar. Penerapan e-learning harus dipikirkan dengan matang dan terencana karena banyak hal yang terkait di dalamnya. Oleh karenanya, sebelum memutuskan untuk mengimplementasikan e-learning, perusahaan harus sudah memikirkan langkah-langkah strategis yang akan diterapkan, baik dalam jangka pendek dan jangka panjang untuk memastikan kelangsungan implementasi e-learning yang berdaya guna. Untuk itu, pada awalnya perusahaan harus melakukan identifikasi dan penggalian informasi mengenai implementasi e-learning, baik dengan memanfaatkan jasa konsultan e-learning atau pun melakukan adopsi (benchmark) dari perusahaan lainnya yang sudah sukses mengimplementasikan e-learning. Selain itu, harus dipastikan agar implementasi e-learning tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan learning management secara keseluruhan.
  2. Ketidaksiapan melakukan change management. Yang dimaksud dengan change management di sini lebih dalam konteks people. Harus disadari bahwa keberhasilan implementasi e-learning sangat tergantung dari penerimaan atau respons para penggunanya (dalam hal ini adalah karyawan perusahaan). Implementasi e-learning dapat dikatakan sukses apabila ada antusiasme yang tinggi dari penggunanya, dan memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas SDM dalam rangka mencapai target perusahaan. Salah satu tantangan yang perlu dipikirkan dengan matang oleh manajemen adalah merubah proses atau budaya belajar (learning culture) karyawan perusahaan. Apabila selama ini proses pembelajaran lebih didominasi dengan metode konvensional, khususnya pelatihan di kelas (training classroom), di mana ada peran seorang instruktur atau trainer yang memberikan pelatihan, maka dengan e-learning peran itu menjadi hilang. Oleh karenanya, perusahaan harus membuat kebijakan yang tepat, yang dapat memberikan rangsangan kepada para karyawan agar mau berpartisipasi secara aktif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Pemberian reward kepada peserta dengan result evaluation yang sangat baik, penugasan seorang supervisor untuk mengawasi implementasi di setiap cabang atau unit kerja, dan kebijakan untuk menjadikan e-learning sebagai salah satu tolak ukur kompetensi karyawan merupakan beberapa cara yang bisa diterapkan.
  3. Kurangnya support dari manajemen secara keseluruhan. Kesan yang seringkali muncul adalah implementasi e-Learning di sebuah perusahaan hanya menjadi milik dan tanggung jawab satu divisi saja, khususnya Training/Learning Center. Kondisi demikian membuat divisi lainnya merasa tidak dilibatkan, dan hal ini menyebabkan timbulnya resistensi terhadap implementasi e-Learning di perusahaan. Seharusnya implementasi e-Learning menjadi milik semua elemen di perusahaan dengan tujuan pengembangan sumber daya manusia demi kelancaran bisnis perusahaan. Harus ada sinergi dari semua pihak di perusahaan agar implementasi e-Learning dapat berjalan dengan baik dan makksimal, mulai dari proses pengembangan hingga pelaksanaannya,.
  4. Ketidaksiapan infrastruktur teknologi. Tanpa teknologi yang memadai, mustahil implementasi e-learning dapat berjalan maksimal. Teknologi bukan hanya sekedar sarana pendukung, tetapi menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Keberadaan teknologi yang memadai menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan implementasi e-learning di perusahaan. Salah satu contoh kegagalan yang sering terjadi adalah masalah bandwith. Perusahaan tidak memperhitungkan dengan cermat kapasitas bandwith yang dibutuhkan untuk implementasi e-learning dan kaitannya dengan proses operasional perusahaan. Yang kemudian terjadi adalah keberadaan e-learning justru dianggap menjadi penghambat proses operasional perusahaan. Kondisi ini kemudian diikuti dengan langkah untuk mengurangi kapasitas bandwith untuk penggunaan e-learning. Dampaknya adalah proses pembelajaran via e-learning menjadi sangat lambat, khususnya dalam proses pengunduhan materi. Hal ini jelas menimbulkan ketidaknyamanan bagi para penggunanya. Ketika ini terjadi, dapat dikatakan bahwa penerapan e-learning telah setengah jalan menuju kegagalannya, karena seperti yang telah saya jelaskan di poin sebelumnya, keberhasilan e-learning tergantung bagaimana penerimaan atau respons dari para penggunanya.
  5. Individu-individu pelaksana yang kurang kompeten. Perusahaan menganggap bahwa e-learning dapat dikelola oleh siapa saja. Ini jelas pemahaman yang sangat salah. Dapat dikatakan bahwa e-learning merupakan perpaduan dari banyak unsur, seperti education, IT, art, dan multi-media. Oleh karenanya, dibutuhkan figur-figur yang memiliki pengetahuan terkait dengan unsur-unsur tersebut. Figur yang tidak hanya paham bagaimana membuat sebuah materi yang berguna, tetapi juga bagaimana materi itu menarik bagi para pembelajarnya, serta dapat berfungsi dengan baik dalam koridor teknologi.
  6. Penggunaan Learning Management System (LMS) yang tidak tepat sasaran. LMS adalah software aplikasi yang berfungsi untuk menyimpan, mengelola, dan mendistribusikan berbagai materi pelatihan, ujian atau test yang telah disiapkan. LMS dilengkapi dengan katalog online sehingga pembelajar dapat mengakses, memilih, dan menjalankan berbagai materi pelatihan yang ada. LMS mampu mencatat log atau tracking aktivitas setiap pembelajar yang memanfaatkan e-learning. Ada banyak aplikasi LMS yang dapat dipilih dan digunakan, baik yang sifatnya berbayar atau pun gratis. Setiap aplikasi LMS tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Agar tidak salah pilih, sebaiknya perusahaan perlu terlebih dahulu melakukan identifikasi kebutuhan mereka akan LMS yang disesuaikan dengan sistem pembelajaran yang akan dibangun dan diterapkan kedepannya.
  7. Pemilihan vendor e-learning yang tidak tepat. Biasanya perusahaan memilih sebuah vendor e-learning karena dua alasan, yaitu harga yang relatif murah dan nama besar. Hal itu memang tidak salah, tetapi alangkah baiknya bila pemilihan vendor e-learning disesuaikan dengan kebutuhan dan strategi implementasi yang ada agar kedepannya implementasi e-learning dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Sebagai contohnya, perusahaan memilih vendor A karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibandingkan kompetitornya. Tetapi ternyata kualitas modul e-learning yang dihasilkan sangat mengecewakan dan jauh dari ekspektasi perusahaan, serta tidak menarik minat karyawan untuk mempelajarinya. Contoh lainnya adalah perusahaan memilih vendor B karena nama besarnya di bidang e-learning. Secara kualitas memang bagus, tetapi belakangan baru diketahui bahwa modul yang dihasilkan memiliki satu kelemahan utama, yaitu tidak dapat di-update oleh pihak internal perusahaan karena ada keterbatasan komponen yang hanya dimiliki oleh vendor tersebut. Jadilah perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan apabila ingin melakukan perubahan yang bersifat update. Padahal perusahaan sudah mengalokasikan SDM khusus yang bertugas untuk melakukan perubahan atau modifikasi.
  8. Penyusunan kursus atau materi e-learning yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau strategi bisnis perusahaan (business strategy). Hal ini merupakan kondisi yang tidak hanya terjadi pada implementasi e-learning, tetapi secara lebih luas juga pada pelaksanaan training di banyak perusahaan. Ketika menyusun sebuah training, pihak yang terkait sering kali tidak mempertimbangkan implikasinya bagi strategi bisnis perusahaan. Mereka beranggapan bahwa karyawan perlu tahu tentang sebuah materi training, tanpa memikirkan alasan, tujuan, atau dampaknya secara langsung bagi karyawan dan perusahaan. Langkah yang sebaiknya dilakukan di awal adalah melakukan training needs analysis (TNA) berbasis kompetensi yang mengacu pada corporate strategybusiness strategy, dan functional strategies. Hasil dari proses tersebut nantinya tertuang dalam sebuah matriks implication of business strategy for training, yang akan dijadikan acuan dalam menyusun sebuah training atau eContent bagi karyawan perusahaan.
  9. Modul e-learning yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip instructional design (tidak efektif). Ada beberapa hal yang dapat dijadikan contoh indikasi. Pertama adalah developer minded, bukan user minded. Dalam mengembangkan sebuah modul e-learning, seharusnya didasari atas pemikiran “apa yang perlu diketahui dan yang terbaik” untuk pembelajar (user), bukan apa yang terbaik menurut kacamata developer. Kedua adalah lebih mendahulukan tampilan (grafis) daripada instructional strategy. Harus dipahami bahwa sebuah modul e-learning yang baik diukur dari seberapa mudah materi pembelajarannya untuk dimengerti dan dipahami, bukan dari seberapa bagus kualitas grafis yang ditampilkan. Untuk itu diperlukan pemilihan instructional strategy yang baik dan sesuai. Grafis hanyalah salah satu bagian dari instructional strategy yang digunakan untuk mempermudah user memahami sebuah materi. Ketiga adalah cakupan materi yang terlalu banyak dan dipaksakan. Banyak perusahaan terjebak dalam pemikiran bahwa kehadiran e-learning otomatis akan menggantikan fungsi training konvensional (classroom). Kondisi ini membuat perusahaan sebisa mungkin memasukkan materi sebanyak-banyaknya dalam sebuah modul e-learning. Hal ini jelas menyulitkan bagi para pembelajar dalam mempelajari dan memahami materi yang disampaikan. Sebuah modul e-learning seharusnya mudah untuk dipelajari (simple). Satu yang harus dipahami adalah bahwa kehadiran e-learning tidak otomatis menggantikan training konvensional secara keseluruhan. Ada beberapa materi pembelajaran yang dapat sepenuhnya menggunakan e-learning, dan ada beberapa lainnya yang tetap harus  disampaikan dengan metode konvensional.

Daftar Pustaka :
 "Putra, Y. M. (2018). Pengenalan E-Learning. Modul Kuliah Sistem Informasi Manajemen. JakartaFEB-Universitas Mercu Buana".



Comments

Popular posts from this blog

TUGAS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN: INFORMASI DALAM PRAKTEK (STUDI KASUS PADA PT. Mustika Ratu Tbk)

TUGAS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN: INFORMASI DALAM PRAKTEK (STUDI KASUS PADA PT. Mustika Ratu Tbk) 1.     Informasi  sebagai salah satu faktor penting penentu keberhasilan system pemproses transaksi Pada tahun 1961, D, Ronald Daniel dari Mc.Kinsey dan Company, salah saru perusahaan konsultan terbesar di Amerika, memperkenalkan istilah critical success factor (CSF) atau faktor penting penentu keberhasilan. Ia mengungkapkan bahwa terdapat beberapa aktivitas penting yang akan menetukan keberhasilan atau kegagalan bagi semua jenis organisasi.    Ketika manajemen sebuah perusahaan menjalankan konsep CSF, mereka akan memusatkan perhatian pada pengindentifikasikan CSF dan kemudian memonitor sampai seberapa jauh mereka telah mencapainya. Perusahaan yang melaksanakan strategi ini mengakui bahwa informasi merupakan suatu sumber daya yang berharga dan bahwa sistem informasi yang baik merupakan salah satu CSF. a.     ...

IMPLIKASI ETIS DARI PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA KARYAWAN PT. MUSTIKA RATU TBK

IMPLIKASI ETIS DARI TEKNOLOGI INFORMASI BAB I PENDAHULUAN A.      LATAR BELAKANG MASALAH Perilaku kita diarahkan oleh moral, etika, dan hukum. Undang-undang mengenai komputer telah diterapkan di banyak negara untuk mengatasi kekhawatiran seperti hak mendapatkan akses data, hak akan privasi, kejahatan komputer, dan paten peranti lunak. Perusahaan memiliki kewajiban untuk menetapkan budaya etika yang harus diikuti oleh para karyawannya. Budaya ini didukung oleh kredo perusahaan dan program-program etika. Direktur informasi dapat memainkan peranan yang penting dalam praktik etika komputer suatu perusahaan. Etika komputer amat penting karena masyarakat memiliki persepsi dan ketakutan tertentu yang terkait dengan penggunaan komputer. Fitur-fitur penggunaan komputer yang menghawatirkan masyarakat adalah kemampuan untuk memprogram komputer untuk melakukan nyaris apa saja. Masyarakat memiliki empat hak dasar yang berkenaan dengan penggunaan komputer; p...